Laman

Jumat, 30 September 2011

Ciri Ekologis pada Gaya Arsitektur

Ciri Ekologis pada Gaya Arsitektur

Gaya hidup sehat alias gaya hidup berkonsep ekologis, ternyata dapat juga dituangkan dalam bentuk dan gaya arsitektur sebuah hunian.
Sebagai ilmu pengetahuan, eko-arsitektur memiliki empat aspek utama, yakni:
  1. Kesehatan
Bertujuan merencanakan bangunan yang sehat dan tidak menimbulkan dampak merugikan bagi penghuninya, baik secara fisik maupun mental.
  1. Afeksi
Menciptakan bangunan yang mengarahkan penghuni kepada kesadaran untuk merawat alam sekitarnya.
  1. Ekologi
Merencanakan bangunan yang terkait secara holistik dengan kehidupan alam yang menjadi tempat hidup manusia.
  1. Antropologi
Menghargai ajaran nenek moyang tentang membangun bangunan yang “ramah lingkungan.”

Bertentangan

Untuk merancang sebuah bangunan  yang didasari konsep eko-arsitektur, kita harus memperhatikan falsafah penciptaan alam, dan menghayati peran manusia sebagai pengelola sekaligus perawat alam. Ini didasarkan pada konsep eko-arsitektur yang bertujuan menciptakan kehidupan yang selaras dengan alam, masyarakat sekitar, dan Sang Pencipta.
Pandangan tersebut sedikit bertentangan dengan budaya modern yang cenderung praktis, mobile, dan bebas. Sehingga banyak bangunan modern menolak pengetahuan tentang kearifan alam. Justru arsitektur yang berkembang dari warisan tradisional lebih memiliki kesadaran tentang konsep ekologis.
Kearifan terhadap kelestarian alam, menciptakan aturan-aturan untuk merawat alam dalam bentuk adat dan nilai religi. Budaya tradisional juga menciptakan komunitas manusia yang guyub dan rukun. Mereka berunding bersama untuk merawat dan mendaras alam. Hal ini tercermin dari tata rumah tradisional yang umumnya memiliki teras depan dan halaman tanpa pagar, simbol nilai kesatuan dan kebersamaan.

Gaya Eko-Arsitektur

Selain dicirikan dan dipengaruhi oleh perkembangan budaya, ragam dan gaya arsitektur secara fisik dapat dikenali dari:
>        Bentuk keseluruhan bangunan dan alasan mengapa dibentuk semacam itu.
>        Teknik yang dipakai saat pengerjaan bangunan.
>        Bahan bangunan yang dipilih dan diseleksi sesuai aturan yang populer saat itu.
>       Bentuk, warna serta arti dekorasi pada bangunan.
>       Bentuk, teknik pembuatan dan penataan perabot sesuai jamannya.
Dari lima hal di atas dan dengan memakai kacamata kesehatan, afeksi, ekologi, dan antropologi untuk melihat ragam arsitektur, maka ada sejumlah gaya dalam eko-arsitektur,  antara lain:
Arsitektur vernakular (arsitektur tradisional) adalah gaya kedaerahan yang dibuat ahli bangunan tradisional, tanpa campur tangan arsitek akademisi. Arsitektur vernakular umumnya sangat tanggap terhadap alam sekitar.
Para ahli bangunan terikat pada ketentuan adat, sehingga mereka tidak sekadar membangun rumah tetapi juga membangun komunitas budaya. Bangunan rumah hanya properti yang melengkapi kawasan komunitas budaya, di mana masyarakat melakukan beragam kegiatan, dari mengolah hasil bumi sampai upacara adat.
Wujud fisik komunitas budaya tersebut dinyatakan dengan bangunan rumah, lumbung, lapangan, tempat ibadah, balai pertemuan, dsb. Arsitektur vernakular merupakan karya empirik dalam mengatasi bencana alam, serta memiliki fungsi memelihara alam. Contohnya, rumah pedesaan Sunda dilengkapi kolam ikan sebagai pengendali aliran air permukaan di perbukitan.
Ragam gaya arsitektur vernakular di sekitar Yogyakarta.
Arsitektur bioklimatik adalah bangunan dengan pengendalian udara alami yang nyaman. Udara tropis Indonesia terbagi menjadi wilayah tropis basah  di bagian barat dan tropis kering di bagian timur. Di kawasan tropis basah, musim kemarau umumnya panas dan gerah. Tubuh berkeringat namun tak mudah menguap.
Bangunan sebagai kulit ketiga manusia, berfungsi sebagai ruang untuk menguapkan keringat di kulit dan kelembaban dinding bangunan. Jendela, pintu, lubang atap atau lubang dinding diperlukan untuk mengendalikan sinar ultra violet, infra merah dan panas matahari yang berlebihan.
Rancangan khas arsitektur bioklimatik tropis antara lain mementingkan atap sebagai pelindung panas dan hujan, dinding yang mengendalikan panas dan lubang-lubang dinding yang leluasa untuk ventilasi udara.
Arsitektur bioklimatik atap rumput
Arsitektur hijau (rumah bumi) merupakan rancangan arsitektur yang menghindari material buatan yang dapat mencemari alam. Bahan bangunan diambil dari material alami. Dinding bisa dibangun dari  tanah liat, batu alam, atau kayu. Atap disusun dari bilah kayu, dedaunan, atau ijuk. Sisa bahan bangunan dapat dikembalikan ke alam tanpa menimbulkan pencemaran.
Rancangan bangunan arsitektur hijau menyesuaikan keadaan fisik alam serta pemandangan sekitar dengan sifat kinetik-grafitasi alam, sehingga bangunan benar-benar terkesan kokoh berdiri di atas bumi. Contoh rumah bumi adalah galeri Affandi di Yogyakarta, yang mengekspresikan daun waru jatuh dari langit. Demikian juga Perumahan Kali Code Yogyakarta yang dirancang YB. Mangunwijaya, yang merupakan arsitektur terasering sungai.
Arsitektur hijau (rumah bumi)
Arsitektur geopropilaktik adalah rancangan arsitektur yang meniru bentuk alam sekitarnya, atau rancangan arsitektur yang mengembangkan benda-benda alam sebagai fungsi bangunan. Secara fisik rancangannya dapat berupa rumah pohon, arsitektur lereng gunung (arsitektur Yunani), dll.
Arsitektur ini bertujuan menimbulkan motivasi yang kuat untuk merawat alam sekitar. Tokoh-tokoh penganjurnya antara lain Rudolf Doernach (Jerman).
Gambar: RumahSehat Apr1-04
Arsitektur geopropilaktik
Arsitektur daur ulang adalah rancangan yang memanfaatkan barang bekas menjadi material bangunan, perabot, dll. Tentunya bukan sebarang barang bekas, namun barang bekas yang dinilai kembali dari segi pemanfaatan, dampak kesehatan, dan daya tahannya.
Keunikan arsitektur ini adalah mencari sejumlah bahan bangunan sesuai dengan kebutuhan membangun, sehingga dihasilkan bentuk, ukuran, tekstur, dan warna bangunan yang tidak sama satu dengan yang lain, namun indah dan harmonis. Bangunan ini dirancang sesuai dengan persediaan bahan yang tersedia, sehingga pembangunannya umumnya dilakukan secara bertahap.
Salah seorang arsitek penganjur benda daur ulang adalah  Reinhard Kanuka Fuchs, arsitek kelahiran Jerman yang tinggal di Auckland. Dari Indonesia, YB. Mangunwijaya membangun Rumah Retret di Salam Magelang dengan botol belas dan tutup pasta gigi.
Kontainer bekas yang banyak ditemukan di kota-kota kawasan Asia dapat dibangun menjadi rumah indah dan kuat, khusus untuk masyarakat miskin. Setiap kontainer bisa menjadi satu bangunan rumah tinggal untuk tiga orang.
Arsitektur hunian eko-komunitas adalah kumpulan bangunan yang mengekspresikan kerjasama sekelompok masyarakat dalam menciptakan lingkungan sosial, yang mampu memenuhi kebutuhan mereka akan air, energi dan makanan.
Contohnya adalah Arsitektur Permakultur yang dikembangkan di  Selandia Baru. Ini merupakan sinergi antara perkebunan, pertanian terpadu, komunitas pro lingkungan, bangunan ekologis, arsitektur taman, serta program hemat energi dalam satu kawasan.
Hunian eko-komunitas. Halaman dan atap rumah bisa dijadikan lahan pertanian, perikanan atau peternakan, dan energi didapat dengan meminjam energi alam.
Arsitektur analogi alam adalah arsitektur yang rancangan bangunannya meniru bentuk benda-benda alam namun memanfaatkan teknologi maju. Contohnya, Gedung Opera Sidney karya Jörn Utzon dan Arup yang melukiskan musim kawin kura-kura, atau kapel Notre Dame di  Ronchamp karya arsitek besar Le Corbusier dari Perancis, yang menyerupai ikan pari beristirahat.
Arsitektur analogi alam belum tentu bernilai ekologis, jika bahan bangunan dan teknologinya merusak alam sekitar. Untuk menyempurnakannya, arsitektur ini sebaiknya didukung konsep arsitektur hijau.
KETUJUH gaya di atas merupakan contoh gaya eko-arsitektur. Ragam dan gaya bangunan eko-arsitektur bukan bertujuan prestis atau simbolik, tetapi menumbuhkan motivasi kuat untuk menciptakan sustainable architecture dan keselarasan dengan alam.
*) Arsitek dan Dosen Unika Soegijapranata, Semarang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar